
"....semua makhluk ciptaan Tuhan samada manusia,binatang,tumbuhan, alam semulajadi dan sebagainya,saling perlu memerlukan,saling bantu-membantu kerana mereka berkait,terikat antara satu sama lain dalam satu kitaran yang berhubungan. Justeru, jangan diputuskan ikatan itu, kelak, seluruh kitaran akan musnah..." Ahmad Rais Johari
Friday, July 4, 2014
China “Bans Ramadan” as punishment for Uighur Muslims fasting

Masuk ICU selepas makan roti John
Muhammad Qayyim mendapat rawatan di unit rawatan rapi (ICU) HTAR, Klang. - Foto Suraya Md TapMangsa dikenali sebagai Nurul Qaisarah Hamdan, 13, Muhammad Qayyim, 11, Nur Qatrunnada, 9, dan Nurul Qasihdayana, 4.
Tiga daripada lima beradik yang mengalami keracunan makanan itu, dipercayai selepas menikmati roti John yang dibeli di bazar Ramadan di Sri Muda, di sini, dimasukkan ke Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR) Klang, Selasa lalu, selepas mengalami muntah-muntah dan cirit-birit.
Bapa mangsa, Hamdan Mohd Nasir, 40, berkata, Nurul Qiasarah dimasukkan ke hospital sama malam kelmarin kerana mengalami simptom sama.
Beli 3 bungkus roti John
Katanya, sebelum kejadian, beliau membeli tiga bungkus roti John dan separuh daripadanya diberikan kepada anak sulungnya yang berusia 15 tahun yang tinggal di asrama di sebuah sekolah di sini.
Memang setiap tahun kami sekeluarga akan membeli roti John di bazar berkenaan. Tidak sangka tahun ini anak-anak saya mengalami keracunan makanan.
Anak lelaki ketiga kami Muhammad Qayyim yang sakit teruk kerana beliau yang banyak makan roti John itu.
Kejang otot, muka pucat
Selain cirit-birit dan muntah, anak-anak saya turut mengalami kekejangan otot dan muka menjadi pucat.
(Sumber - http://www.bharian.com.my/bharian/articles/MasukICUselepasmakanrotiJohn/Article)
Saturday, July 13, 2013
Hakikat Syukur oleh Haris Andora
ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH...
MA'ASYIRAL MUSLIMIN RAHIMAKUMULLAH....,
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
~ "Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
(QS. Ibrahim [14]:34)
Kurnia atau nikmat yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada setiap manusia sungguh sangat banyak dan amat besar, siapa pun dia, bagaimana pun kondisinya dan apa pun status sosialnya.
Bahkan, musibah yang menimpa seorang mukmin yang ia terima dengan penuh lapang dada, seraya menucapkan "inâ lillâh wainnâ ilaihi râji`ûn" (sesungguhnya kami ini adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami kembali) itu pun menjadi karunia dan nikmat tersendiri baginya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya,
> "Sungguhnya keadaan seorang mukmin itu sangat menakjubkan, karena semua keadaannya menjadi kebaikan bagi dirinya:
~ jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka itu mejadi kebaikan baginya,
~ dan jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya". (HR. Muslim)
Oleh karena sangat banyaknya karunia dan kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada semua manusia yang kadang lalai, tidak tahu diri dan tidak mengenal kebaikan dan karunia Allah kepadanya, karena itu semua Allah subhanahu wata’ala menyapa manusia ini dengan mengatakan,
~ "Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya.
Allah subhanahu wata’ala menyapa manusia agar mereka bersyukur kepada-Nya dan memanfaatkan semua karunia dan nikmat itu pada jalan yang diridhai-Nya, juga agar manusia tidak menjadi orang yang zalim dan kufur nikmat dan tahu betapa banyaknya karunia dan nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kpadanya.
~ "Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)."
Kita sering mendengar seseorang mengeluh dan berontak, seraya berkata,
- "Allah sangat tidak adil!
"Aku sudah melakukan shalat lima waktu, bahkan shalat malam pun sering aku lakukan dan aku sudah berdo'a, namun hingga detik ini Dia tidak penah mengabulkan do`aku. Sementara, temanku yang tidak taat kepada Allah dan selalu melakukan kemaksiatan malah diberi rizki yang berlimpah ruah! Sungguh Allah sangat tidak adil!"
Ungkapan seperti ini sering kita dengar dari sebagian orang dan mirip dengan yang diungkapkan oleh Allah subhanahu wata’ala di dalam al-Qur'an tentang sifat kufur manusia:
~ "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku". (QS. 89:15-16)
Orang seperti itu biasanya tidak sadar kalau karunia dan kenikmatan yang telah Allah subhanahu wata’ala berikan kepadanya tidak terhitung jumlahnya bahkan belum pernah ia syukuri, dan sekali pun ia telah mensyukurinya pasti syukurnya tidak akan dapat menandingi kenikmatan itu.
> Tidakkah Allah telah memberinya mata (penglihatan) yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan materiel, lalu sepadankah kesyukurannya dengan nikmat penglihatan (mata) ini?!
> Tidakkah Allah telah menganugerahkan kepadanya akal yang dengannya ia dapat melakukan banyak hal?
~ Relakah akalnya ditukar dengan uang sebanyak kebutuhannya?!
~ Lalu bagaimana dengan nikmat sehat,
~ nikmat bisa bernafas,
~ nikmat oksigen,
~ nikmat Islam,
~ nikmat iman,
~ nikmat dapat beribadah dengan baik dan khusyu',
~ nikmat ilmu dan lain-lainnya?
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
> Katakanlah, "Dia-lah yang mencipta kan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)". Tetapi amat sedikit kamu bersyukur.”
(QS.Al-Mulk [67]:23)
> Jika nikmat yang ada pada dirinya saja belum tersyukuri, lalu pantaskah ia mengucapkan ungkapan ke-kufuran- seperti di atas? Tidakkah kalau Allah memberinya nikmat yang lain malah membuatnya makin tidak bersyukur, sebab yang ada saja tidak disyukuri?!
~ Sungguh alangkah malangnya manusia yang tidak merasakan betapa banyak dan betapa sangat besarnya karunia dan nikmat Allah subhanahu wata’ala kepada dirinya, atau hanya bisa merasakan karunia dan nikmat-Nya pada makanan dan minumannya saja, lalu ia merasa telah bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala, karena bisa mengucapkan Alhamdu lillâh sesudahnya.
Seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Abû Dardâ ra pernah mengatakan,
~ "Barang siapa yang tidak melihat (merasakan) nikmat yang Allah berikan kepadanya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka sesungguhnya ilmu (ma`rifat)nya sangat dangkal dan azab pun telah menantinya". (Abu Hayyân al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, jilid 6, hal. 441. Maktabah Tijâriyyah Musthafa al-Bâz)
Karunia dan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita (manusia) sungguh tidak dapat kita hitung jumlahnya dan sebanyak apapun kesyukuran manusia kepada Allah atas karunia-Nya tetap tidak akan sebanding, bahkan bisa bersyukur itu sendiri merupakan karunia dan nikmat.
Oleh karena itu, hendaknya manusia, apapun keduduk-annya di dunia harus selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah subhanahu wata’ala Sang PEMBERI NIKMAT.
Ibnu Qayyim (seorang tokoh ulama terkemuka) menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu....
~ adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzîb Madârij al-sâlikîn oleh Abdul Mun`im al`Izzî, hal. 348)
Dan beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur.
5 (lima) pilar pokok itu adalah
- Kepatuhan orang yang bersukur kepada Pemberi nikmat,
- Mencintai-Nya,
- Mengakui nikmat dari-Nya,
- Memuji-Nya atas nikmat-Nya dan....
- Tidak menggunakan nikmat yang diberikan-Nya untuk sesuatu yang tidak Dia suka. (maraji' sebelumnya)
Ketika seseorang mengidap suatu penyakit yang membuatnya menderita sepanjang waktu dan sudah mengancam keselamatan jiwanya.
Sang dokter memutuskan ia harus menjalani suatu operasi medis untuk menyelamatkan jiwanya, akan tetapi biaya operasi jauh di luar kemampuannya, bahkan sudah berbagai upaya dilakukan keluarganya untuk mendapatkan dana demi menolongnya hingga akhirnya mereka berputus asa dan pasrah. Sementara, si penderita terus merasakan getirnya penderitaan yang menimpanya.......
~ Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba ada seorang dermawan menanggung semua kebutuhan biaya operasi,hingga akhirnya jiwa penderita terselamatkan dan bebas dari derita yang selama ini mencengkramnya.
Di saat terpenuhinya kebutuhan seperti itulah kenikmatan itu terasa, ucapan terima kasih dan pujian kepada si dermawan pun terus diucapkan sepenuh hati, kebaikannya tak terlupakan sepanjang masa, rasa patuh, hormat dan cinta kepadanya pun mendalam di dalam kalbu. Kalau pun sekiranya bantuan itu bersyarat, maka dengan suka hati ia memenuhinya.
Begitulah kira-kira ilustrasi seorang yang bersyukur.
Walhasil, ucapan alhamdulillah saja belum bisa dianggap telah mencerminkan kesyukuran, sebelum adanya pengakuan lisan, sikap tunduk dan taat, rasa cinta serta memanfaatkan kenikmatan dalam rangka ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala
Jika, demikian hakikat syukur, maka jangan anda heran kalau Allah subhanahu wata’ala berfirman, "Dan sangat sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur"
(Q.S. Saba' [34]: 13),
~ "Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim [14]:34),
.....karena memang seperti itu keadaannya.
Sekalipun begitu, Allah subhanahu wata’ala tidak ingin kalau hamba-hamba-Nya tidak bersyukur, karena akan berakibat buruk bagi mereka di dunia maupun di akhirat. Maka Dia perintahkan kepada mereka melalui ayat-ayatnya agar selalu bersyukur, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengajarkan kepada ummatnya apa yang harus mereka lakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala, di antaranya melalui do`a setiap usai sholat, artinya,
~ "Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu". (HR. Abu Daud:1522 dan Nasa'i: 1302)
Dan dzikir pagi dan sore, artinya,
~ "Ya Allah, kenikmatan apapun yang ada padaku atau pada seseorang di antara makhluk-Mu (di pagi hari ini, di sore hari ini), maka dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka untuk-Mu lah segala puji, dan untuk-Mu jualah segala rasa syukur" (HR. Abu Daud: 5073, Nasa'i: 7)
Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala yang pandai bersyukur dan berterima kasih.
Wallâhu a`lam.
Wassalam,
Wednesday, August 3, 2011
Marhaban Ya Ramadhan 1432 Hijriah - Semoga Hadirmu Membawa Keberkatan dan Kerahmatan Buat Meneruskan Kehidupan.
Segala puji bagi ALLAH atas segala rahmat, nikmat dan anugerahnya yang senantiasa dilimpahkan tanpa ada habisnya. Alhamdulilah kita masih diberi panjang umur untuk berjumpa kembali dengan bulan mulia, bulan penuh rahmat dan ampunan, bulan suci nan mensucikan, bulan ramadhan.
Marhaban Ya Ramadhan.
Saatnya untuk berpuasa, mengalahkan segala hawa nafsu duniawi untuk mensucikan diri dari segala dosa² yang tiada terkira. Melaksanakan segala amal kebaikan, menjadi manusia yang ihklas untuk merasakan penderitaan orang lain, dan menyadari siapalah kita yang selalu menyombongkan diri di atas dunia-NYA.
Marhaban Ya Ramadhan.
Sempena kehadiran ramadan kali ini, saya memohon maaf kepada semua rakan seperjuangan, sahabat-sahabat yang mengenali saya, para pembaca blog ini dan semua mahasiswa/i UiTM di atas segala kehilafan yang saya lakukan secara sengaja taua sebaliknya.Saya hanyalah manusia biasa yang kerap kali dilumuri dosa.
Friday, August 13, 2010
Selamat Datang Wahai Ramadan - Selamat Menyambut Ramadan Al-Mubarak Kepada Semua Muslimin dan Muslimat.
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan 1431 Hijrah bagi seluruh pembaca yang beragama islam dan seluruh muslimin dan muslimat. Semoga Allah SWT berkenan memberikan segala kebajikan dan kebaikan Ramadan kepada kita sebagaimana yang telah dijanjikanNYA melalui Al Qur'an Nur Karim dan Sunnah Rasulullah Salallahuwa Alaihi Wasallam. Mudah-mudahan kita termasuk dalam kelompok orang-orang yang beruntung tidak saja selama menjalankan ibadah yang teramat istimewa ini, akan tetapi begitu juga seterusnya. Saya memohon kemaafan daripada hujung rambut sehingga hujung jari kaki kepada pembaca jika terdapat tulisan saya di dalam blog ini menganggu akal dan hati pembaca. Semoga kehadiran ramadan kali ini adalah yang lebih baik daripada Ramadan sebelumnya.Amin!
Dari: Ahmad Rais Johari
Tuesday, September 23, 2008
Selamat Menyambut Aidil Fitri, Mohon Kemaafan Dengan Suci Hati, Angkara Anggota dan Rasa Hati, Semoga Bersama Kita Diberkati
Hari kemenangan muslim semua
Tangan disusun sepuluh jari
Tanda kemaafan kita bersama
Selamat meraikan Aidil Fitri
Hari besar muslim semua
Salah silap mohon dimaafi
Angkara hati juga anggota
Sempena Kedatangan Aidil Fitri
Mari kita satukan minda
Bersama kita membersihkan hati
Supaya rohani sentiasa mulia
Selamat bergembira di Aidil Fitri
Zakat fitrah jangan dilupa
Supaya harta lebih diberkati
Baru bahagia ikatan keluarga
Selamat bercuti menyambut Aidil Fitri
Kerja ditangan jangan dilupa
Esok nanti selepas cuti
Kerja menunggu bertimpa-timpa
Balik kampung menyambut Aidil Fitri
Ingin bertemu ayahanda dan bonda
Pandu kereta berhati-hati
Supaya selamat ahli keluarga
"SELAMAT HARI RAYA, MAAF ZAHIR DAN BATIN"
Daripada Ahmad Rais Johari dan Keluarga
Pembantu Teknik
Pusat Sistem Maklumat Bersepadu (PSMB)
Unit Rangkaian, UiTM
Merangkap Pegawai Pembangunan Pelajar Non-Resident UiTM
Monday, September 22, 2008
Saat-Saat Rasullullah Menghembuskan Nafasnya Yang Terakhir..
Pada pagi yang hening itu, walaupun langit telah mulai menguning kecerah-cerahan akibat pancaran mentari pagi yang bakal menjengukkan wajahnya, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap seakan memahami sesuatu yang besar akan berlaku. Rasulullah dengan suara terbatas menyampaikan khutbahnya "Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap para sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan matanya yang bersinar-sinar, Umar menahan naik turun nafas dan sedihnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya penuh khusyuk dalam-dalamnya. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat dikala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda keberangkatannya ke alam selepas kehidupan semakin nyata dan menyerlah.
Semasa Ali dan Fadhal dengan pantas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik yang berlalu dan menghentikan perjalanan masa. Matahari naik kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam sambil berkata "Bolehkah saya masuk ke dalam?" tanyanya. Fatimah membuka pintu dan berkata kepada orang itu "Maafkanlah, ayahku sedang demam,". Fatimah tidak mengizinkannya masuk, dan terus membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah orang itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya, aku tidak pernah melihatnya sebelum ini," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang yang penuh kasih sayang dan menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Sesungguhnya, ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut pun datang menghampiri Rasulullah, tapi Rasulullah bertanya kepada malaikat maut kenapa Jibril tidak ikut bersamanya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini."Wahai Jibril, jelaskan kepada ku apakah hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah kepada Jibril. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," balas Jibril. Tapi jawaban itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan kuwatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," sambung Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengeluh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat yang menyampaikan wahyu itu."Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengeluh, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. Ya Allah, "dahsyat bahana maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku jangan pada umatku. ".
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya menghampiri mulut Rasullulah "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku", maksudnya, peliharalah solat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kepucatan "Ummatii, ummatii, ummatiii?"..."Umatku, umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Disaat-saat terakhir itu, Rasululuah masih mengenangkan umatnya. Baginda masih memikirkan tentang umatnya. Baginda begitu mengasihi dan menyintai umatnya. Persoalannya, mampukah kita umat islam mengasihi dan mencintai Rasulululah sebagaimana baginda mengasihi dan mencintai kita umatnya.
Wednesday, September 17, 2008
Tanda -Tanda Hati Yang Mati dan Hati Yang Hidup....
"Sebahagian daripada tanda-tanda hati yang mati ialah tidak berasa sedih(dukacita) kerana meninggalnya suatu amal kebaikan(kewajiban), kebajikan, amal makruf atau pahala dan juga tidak berasa menyesal jika melakukan suatu pelanggaran, kemusnahan, kekejian, kemaksiatan atau dosa"Ketika hati dipenuhi dengan rasa cinta, kasih, sayang dan rindu terhadap keagungan dan mengagungkan Allah, maka dikala itu, hati itu menjadi hidup, tatkala perasaan sedemikian hilang daripada hati kita, maka pada ketika itu, hati itu menjadi mati. Sebagai manusia biasa, semua daripada kita akan melalui fenomena ini, iaitu iman kita tidak konsisten setiap masa, pada satu ketika, iman kita ditahap 85%, disatu ketika lain ia turun menjadi 50%, pada masa yang lain pula ia meningkat kepada 55% dan pada ketika lain pula menurun kepada 30%.
Ini adalah kelemahan manusia, itulah realiti yang telah difirmankan oleh Allah S.W.T "Manusia itu bersifat lemah" (QS An-Nisa' ayat 28). Ini merupakan ketetapan Allah demi sebuah hikmah yang luar biasa dimana Allah telah berkehendak agar kemampuan manusia secara fizikal dan materi terbatas, diselumbungi oleh kecenderungan oleh hawa nafsu dan tidak sepi daripada was-was syaitan. Ini semua adalah fitrah iman dan realiti kehidupan dimukabumi ini. Rasululah bersabda "Semua anak cucu Adam melakukan kesalahan(kekeliruan). Sebaik-baik yang melakukan kesalahan(kekeliruan) adalah orang yang mahu bertaubat" Diriwayatkan oleh Iman Ahmad, Ar Tarmizi, Ibnu Majah dan Hakim dari hadist Anas bin Malik(Sanadnya sahih)
Hikmah dijadikan keadaan sedemikian kepada manusia ialah supaya manusia insaf bahawa hanya pertolongan Allah yang dapat membebaskan manusia daripada maksiat, jatuh ke lembah perdayaan syaitan, tenggelam didalam arus kenikmatan hawa nafsu dan sebagainya. Tetapi setelah kita terjatuh ke lembah kesalahan atau maksiat, mata hati kita yang bernama kalbu yang duduk di dalam sanubari kita berbisik "sesungguhnya aku telah melakukan kesalahan dan maksiat, aku bersalah pada mu Ya Allah". Timbul penyesalan dalam hati terhadap kesalahan kita itu. Timbul keazaman untuk bertaubat kepada Allah. Itu adalah tanda-tanda hati yang HIDUP. Sebaliknya, jika hati kita tidak merasa bersalah terhadap segala dosa yang kita lakukan, malahan merasa megah dan bangga dengan dosa tersebut, maka sesungguhnya itulah tandanya hati yang MATI.
Semoga kita semua tergolong dikalangan orang-orang yang mempunyai hati yang hidup, hati yang bersih dan hati yang terbuka untuk menerima taufik dan hidayah daripada Allah S.W.T Kita mohon supaya bantuan dan pertolongan Allah sentiasa bersama kita dalam mengharungi kehidupan yang penuh pancaroba ini.
(Rujukan Utama : Syarah Al-Hikam Al-'Ataiyyah - Ibnu 'Ataillah)
Friday, September 12, 2008
Asal Usul Kejadian Manusia Pertama Menurut Al Quran
DIALOG ALLAH DENGAN
Apabila Allah SWT hendak menjadikan manusia yang pertama di muka bumi ini, maka Allah SWT memberitahu kepada Malaikat bahawa Allah SWT akan menjadikan sejenis makhluk yang berlainan daripada Malaikat dan juga tidak sama dengan makhluk-makhlukNya yang lain yang ada pada masa itu. Makhluk yang dimaksudkan ialah manusia. Manusia akan menjadi khalifah di muka bumi untuk membangunkan dunia ini sebagai tempat menjalani kehidupan. Dialog Allah SWT dengan para Malaikat tentang kejadian awal manusia. Allah berfirman kepada Malaikat “Aku akan menjadikan di atas muka bumi ini khalifah”, Para Malaikat menjawab ”Apakah Engkau ya Allah akan menjadikan khalifah di atas muka bumi ini? mereka yang akan melakukan bencana dengan menumpahkan darah sesama sendiri, sedangkan kami makhluk yang sentiasa beribadat dengan bertasbih, bertahmid dan mengucap Subhanallah kepada Engkau.” Allah menjawab kepada para Malaikat ”Sesungguhnya aku mengetahui apa-apa yang tiada kamu tahui” (QS al-Baqarah ayat 30). Dengan jawaban tersebut semua Malaikat akur dan mengakui bahawa sesungguhnya Allah SWT itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Lalu Allah SWT menjadikan manusia walaupun mendapat bantahan daripada Para Malaikat.
ASAL KEJADIAN MANUSIA MENGIKUT AL-QURAN
Allah menjadikan Adam daripada tanah liat dengan rupa bentuk yang sempurna dan cantik. Firman Allah ”Sesungguhnya Kami jadikan manusia dengan sebaik-baik bentuk” (QS al-Tin ayat 4).
ADAM DIHIDUPKAN
Setelah tubuh Adam sempurna dijadikan oleh Allah, ku tiupkan rohKu (kepunyaan ku) kepada jasad Adam, yang ditempa daripada tanah, maka bertiaraplah mereka (malaikat) sujud kepadanya (QS al-Sad ayat 72). Bersama-sama dengan roh dimasukan juga tenaga yang menjadi kekuatan kepada jasad itu, Tuhan mengabungkan nafsu, akal dan kemahuan (iradah) dengan roh dalam jasad manusia. Disamping nafsu, akal dan kemahuan yang menjadi tenaga dalam jasad Adam, Allah masukan juga dalam diri Adam apa yang dipanggil ”hawa” iaitu suatu perasaan cenderung melakukan dosa. Allah S.W.T menjelaskan tentang hawa ”Dan janganlah engkau (Nabi Daud) menurut hawa, maka kelaknya ia akan menyesatkan kamu dari jalan (agama) Allah” (QS al-Sad, ayat 26)
SEMPURNA KEJADIAN MANUSIA PERTAMA
Setelah Adam hidup dengan jasmani(jasad), rohani, nafsu, akal dan hawa, maka sempurnalah sifat-sifat kemanusiaan pada manusia yang pertama iaitu Adam. Maka sempurnalah kejadian manusia yang pertama. Sesungguhnya manusia adalah sebaik-baik kejadian dan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan.
ADAM BELAJAR DAN DIBERIKAN ILMU PENGETAHUAN OLEH ALLAH S.W.T
Apabila Adam telah hidup dan digelar manusia, maka Allah kurniakan kepada Adam ilmu pengetahuan yang amat luas dan Allah memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada manusia (Adam). Allah mengajar kepada Adam ilmu pengetahuan, Dia mengajar Adam akan segala nama benda di atas muka bumi ini, kemudian Dia memerintahkan para Malaikat supaya menyebut nama-nama benda sebagaimana yang diajar kepada Adam. Para Malaikat mengaku tidak tahu nama-nama benda itu kecuali mengetahui apa yang diajarkan oleh Allah kepada mereka sahaja. Selepas itu Allah memerintahkan Adam supaya menyebut nama-nama benda tersebut sebagaimana yang diajarkan oleh Allah, lalu Adam menyebutnya satu persatu dengan lancar.
Setelah itu Allah perintahkan para Malaikat supaya hormat sujud kepada Adam, perintah itu dituruti dan dipatuhi oleh semua para Malaikat kecuali Iblis, maka iblis dihalau oleh Allah dari rahmat-Nya, dan Iblis termasuk dalam golongan ”kufur” iaitu mereka yang engkar perintah Allah. Allah berfirman ”Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya maka Aku tiupkan roh, maka hendaklah para Malaikat tunduk dan sujud kepadanya (Adam), maka para Malaikat sujud semuanya kecuali Iblis, ia menjadi degil dan menyombongkan diri dan dia termasuk ke dalam golongan orang kafir” (QS al-Sad ayat 72-74).
BAGAIMANA HAWA (ISTERI ADAM) DIJADIKAN
Setelah lengkap dan sempurna kejadian Adam, maka hiduplah Adam disuatu tempat yang bernama syurga, Suatu hari Adam bersiar-siar menyaksikan keindahan syurga dengan kehijauan yang menyamankan mata yang memandang, derauan air sungai yang mengalir tanpa henti dan kicauan unggas yang berpasang-pasangan, lantas, terlintas didalam hati Adam, dia merasa kesunyian kerana tiada teman untuk berbicara dan tidak ada sesiapa yang akan menenangkan jiwanya.
Pada suatu ketika, sebaik sahaja bangun daripada tidur, tiba-tiba Adam melihat seorang manusia disampingnya, lalu Adam pun bertanya ”Siapakah engkau?” Manusia itu menjawab ”Saya seorang perempuan yang dijadikan untuk berjinak-jinak dengan kau”. Malaikat pun bertanya ”Siapakah nama perempuan itu?”. Jawab Adam ”Hawa”, Malaikat bertanya ”Kenapa namanya Hawa?” Adam menjawab ” kerana ia dijadikan daripada benda yang hidup, iaitu, dirinya (Adam) sendiri” (QS an-Nisa ayat 1). Dari segi akidah dan tauhid kita wajib percaya bahawa Adam dijadikan daripada tanah melalui proses tertentu oleh Allah S.W.T dan Hawa dijadikan daripada diri Adam yang satu. Jadi Hawa perlu taat kepada Adam.
ADAM DAN HAWA DIPERINTAH TINGGAL DALAM SYURGA
” Dan kami berkata; Wahai Adam tinggallah engkau dan isteri engkau dalam syurga dan makanlah makanan-makanan yang terdapat pada nya dengan mewah dan pilih apa saja yang engkau berdua inginkan dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, kalau kamu berdua berbuat demikian makan engkau berdua akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zalim” (QS al-Baqarah ayat 35)
ADAM DAN HAWA DIKELUARKAN DARI SYURGA DAN MENJALANI HIDUP DI BUMI
Iblis berjaya memperdayakan Adam dan Hawa dengan mengatakan bahawa ”Kalau engkau berdua dapat memakan buah yang dilarang oleh Allah itu, kamu akan dapat hidup kekal dalam syurga”. Adam dan Hawa pun terpengaruh dengan kata-kata Iblis itu serta didorong oleh perasaan ingin terus hidup mewah dalam syurga, lalu mereka memakan buah larangan Tuhan itu. Bermula disaat itu, mereka telah melanggar perintah tuhan, setelah menyedari kesalahan tersebut, maka Adam telah meminta keampunan dari Allah dan Allah telah memberi keampunan kepada mereka berdua. (QS Taha ayat 120-121)
Setelah itu, Adam dan Hawa diperintahkan meninggalkan syurga dan turun ke bumi, dan dibumi keturunannya akan hidup bermusuh-musuhan antara satu sama lain dan Allah akan mengirimkan petunjuk (hidayah) kepada Adam suami isteri dan kepada zuriat mereka, dan sesiapa yang menurut petunjuk itu maka ia tidak akan sesat, menderita dan tidak akan merasa takut dan tidak akan berdukacita. (QS Taha ayat 123).
(Rujukan Utama: Tafsir Quran Karim by Prof. H. Mahmud Yunus 30 Juzu)
Thursday, September 11, 2008
Asal Usul Nabi Khaidir
Nama sebenar Nabi Khaidir ialah Balya Bin Malkan Bin Faligh Bin ‘Abir Bin Syalikh Bin Arfakhsyaz Bin Sam Bin Nabi Nuh, dan gelarannya pula ialah Abu Al’ Abbas, Beliau juga dikenali dengan panggilan Khaidir kerana dua sebab, sebab pertama Rasulullah s.a.w bersabda: “ia dinamakan Khaidir kerana ketika ia duduk diatas rumput tiba-tiba memancar cahaya hijau dari arah belakangnya (Hadis Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari), sebab kedua, Al-Khattaby berkata: Dia dinamakan Khaidir kerana wajahnya cantik dan berseri-seri (Rujuk al-Bidayah Wal Nihayah-Ibnu Katsir 1/327).
Malkan iaitu ayahanda kepada Nabi Khaidir adalah seorang Raja yang amat berpengaruh dan terkenal dengan kekejamannya, ketika Nabi Khaidir masih kecil dia dihantar belajar dengan seorang guru yang berakhlak mulia. Diantara rumah guru dan Istana Malkan, ada seorang ahli ibadah yang mana Nabi Khaidir amat tertarik dengannya, maka dia belajar dan tinggal bersama orang yang ahli ibadah itu.
Gurunya beranggapan bahawa Nabi Khidir berada di Istana Raja Malkan, manakala, Raja Malkan pula beranggapan bahawa Nabi Khaidir berada di rumah gurunya, tetapi sebenarnya, Nabi Khaidir tinggal dan belajar secara tidak rasmi dengan orang yang ahli ibadah itu.
Setelah Nabi Khaidir meningkat ewasa, pembesar-pembesar istana mencadangkan supaya dia segera dikahwinkan untuk mendapatkan keturunan atau generasi penerus Kerajaan Raja Malkan, kemudian Raja Malkan menawarkan dan menyuruh Nabi Khaidir mendirikan rumahtangga. Bagaimanapun Nabi Khaidir enggan menerima tawaran tersebut, setelah berulangkali disuruh oleh Ayahandanya, akhirnya Nabi Khaidir bersetuju dan berkahwin dengan seorang puteri raja.
Setelah agak lama menjadi pasangan suami isteri maka Nabi Khaidir memberitahu isterinya. Nabi Khaidir berkata kepada isterinya ”Aku beritahu kepadamu tentang suatu rahsia ku, jika kamu rahsiakan, kamu akan selamat di dunia dan di akhirat tetapi jika kamu bocorkan rahsia ku ini, kamu akan disiksa di dunia dan di akhirat”. Isterinya bertanya ”Apakah rahsia itu?” Nabi Khaidir menjawab ”sesungguhnya aku ini seorang lelaki yang beragama Islam. Bukan seperti ayahku dan aku tidak memerlukan perempuan dalam hidupku, oleh itu, jika kamu bersetuju hidup bersamaku dan mengikut agamaku, maka, kita boleh terus hidup bersama, dan sekiranya, kamu tidak setuju dengan ku, maka aku membenarkan kamu pulang ke rumah keluargamu”. Isteri Nabi Khaidir membalas ”aku akan terus setia bersama mu”.
Setelah lama berumahtangga dan tidak mempunyai anak maka pembesar negara dan orang ramai bertanya kepada Raja Malkan ”Bahawasanya anak kamu itu sebenarnya mandul dan tidak dapat memperolehi anak”, lantas Raja Malkan bertanya kepada Nabi Khaidir, kata Raja Balkan ”telah lama kamu berkahwin, tetapi, sehingga hari ini kamu masih belum mempunyai anak”, balas Nabi Khaidir ”Hal ini bukan dibawah kekekuasaanku tetapi dibawah kekuasaan Tuhanku Allah S.W.T. Dia mengurniakan anak kepada sesiapa yang dikehendakiNya”.
Soalan yang sama ditanya oleh Raja Malkan kepada isteri Nabi Khaidir, jawaban yang diperolehi daripada isteri Nabi Khaidir adalah sama sebagaimana yang diperolehi daripada Nabi Khaidir. Setelah sekian lama telah berkahwin tetapi masih belum dikurniakan anak, maka Raja Malkan menyuruh Nabi Khaidir menceraikan isterinya. Nabi Khaidir enggan berbuat demikian pada mulanya, tetapi Raja Malkan terus memaksa Nabi Khaidir dan akhirnya Raja Malkan memisahkan antara Nabi Khaidir dan isterinya, kemudian, secara paksa, Raja Malkan mengahwinkan Nabi Khaidir dengan seorang janda muda yang telah mempunyai anak dengan harapan mudah-mudahan perkahwinan ini nanti akan membuahkan hasil, iaitu, mempunyai anak untuk meneruskan keturunan dan Kerajaan Raja Malkan.
Malangnya, keadaan yang sama berlaku, setelah lama berkahwin, mereka masih belum dikurniakan anak, apabila Nabi Khaidir ditanya tentang hal ini, jawabannya sama seperti dahulu, kemudian Raja Malkan bertanya kepada isteri kedua Nabi Khaidir ”Kamu ini adalah janda muda yang sudah mempunyai anak sebelum kahwin dengan anakku, kenapa pula kamu tidak memperolehi anak setelah berkahwin dengannya?”. Isteri kedua Nabi Khaidir pun menjawab ”semenjak kami kahwin sehingga sekarang, saya tidak pernah disentuh sama sekali oleh beliau.” Kemudian isteri pertama Nabi Khaidir dipanggil dan ditanya, jawabannya sama belaka.
Nabi Khaidir dipanggil oleh Raja Malkan; dan dia dimarahi dengan bahasa yang kesat dan kasar, sehingga hati Nabi Khaidir terasa, justeru itu, Nabi Khaidir berasa tidak bahagia, selesa dan tenteram untuk tinggal di Istana Raja Malkan, akhirnya Nabi Khaidir meninggalkan Istana Raja Malkan dan pergi merantau, Raja Malkan , ayahanda kepada Nabi Khaidir amat sedih dan menyesal dengan kejadian itu , justeru Baginda Raja Malkan mengerahkan 100 orang untuk mencari Nabi Khaidir ditempat yang berlainan, sebelah utara, selatan, timur dan barat, mereka berpecah mengikut kumpulan, akhirnya, sekumpulan sepuluh orang berjaya menemui Nabi Khaidir di sebuah pulau yang kecil dan terpencil.
DIALOG NABI KHIDIR DENGAN KUMPULAN SEPULUH
Nabi Khaidir berkata kepada kumpulan 10 orang ini. ”Aku akan katakan sesuatu yang bila kamu rahsiakan, kamu akan selamat di dunia dan akhirat, tetapi jika kamu bocorkan rahsia ini, kamu akan disiksa didunia dan diakhirat.” Mereka kumpulan 10 bertanya ”Apakah rahsia itu.?’ Namun Nabi Khaidir bertanya lagi kepada mereka, ”Adakah orang lain yang mencari aku selain daripada kamu sekelian yang bersepuluh.” ”Ya, Ada” balas mereka, Nabi Khaidir terus berkata ”Jika kamu merahsiakan pertemuan kita ini daripada Ayahanku, dengan tidak memberitahu kepada Ayahanda ku tentang pertemuan kita di pulau kecil ini, sebabnya, jika kamu beritahu Ayahanda ku tentang pertemuan kita ini, nanti, aku akan dibunuh dan kamu juga akhirnya akan dibunuh selepas itu,”
Namun setelah kumpulan sepuluh pekerja istana, ini pulang ke Istana Malkan dan bertemu Raja Malkan, sembilan daripada mereka jujur kepada Raja Malkan dengan memberitahu bahawa mereka telah bertemu Nabi Khaidir, manakala, hanya seorang yang merahsiakan pertemuan tersebut daripada Raja Malkan.
Bagaimanapun pekerja istana yang seorang lagi selamat, beliau menjaga rahsia, isteri kedua Nabi Khaidir si janda muda itu juga turut di hukum bunuh kerana menjadi pencetus kepada kekacauan yang berlaku dalam Istana Raja Malkan, kerana takut dibunuh oleh Raja Malkan, bekas isteri pertama Nabi Khaidir, si puteri raja, lari menginggalkan Istana Raja Malkan.
MENJAGA RAHSIA
Kedua-dua mereka, pekerja istana yang menjaga rahsia dan bekas isteri pertama Nabi Khaidir, akhirnya mereka bertemu diperantauan, dan mereka berjanji untuk menutup rahsia masing-masing, dan mereka akhirnya bertemu jodoh dan berkahwin. Mereka merantau ke Mesir dan berkerja dengan Raja Fir’aun di sana. Si isteri bekerja sebagai pengasuh anak perempuan Fir’aun. Dalam sejarah dia dikenali dengan nama Masyitah (tukang sikat rambut). Sementara suaminya pula bekerja sebagai tukang kayu, namanya ialah Hizqil (pembuat kotak yang menghanyutkan Musa dalam sungai Nil).
NABI MUSA BELAJAR KEPADA NABI KHAIDIR
Ketika Nabi Musa berada di Mesir, dia memberikan pidato dan peringatan kepada kaum Bani Israel dengan menyeru supaya sekalian kaum Bani Israel bersyukur kepada Allah di atas segala nikmatNya yang telah dikurniakan kepada mereka. Majlis tazkirah ini benar-benar menyentuh hati nurani kaum Bani Israel sehingga mereka menangis teresak-esak kerana berasa menyesal dan penuh insaf tentang kesilapan lama.
Setelah selesai majlis tazkirah itu, salah satu daripada kaum Bani Israel bertanya kepada Nabi Musa ”Siapakah orang yang paling alim wahai Nabi Musa?” Nabi Musa menjawab ”Aku”. Kemudian turun wahyu daripada Allah kepada Nabi Musa, Firman Allah ”Aku ada mempunyai hamba yang berada dipertemuan laut Parsi dan Rom, dia lebih alim daripada Kamu” Nabi Musa bertanya ”Bagaimana cara aku boleh berjumpa dengan nya?” Allah menjawab ”Bawakan ikan yang sudah dimasak dan letakan di satu bekas lalu bawalah pergi mencarinya, di mana ikan itu hilang di situ hambaKu itu berada”
Nabi Musa pergi bersama Yusya’ Bin Nun Bin Afraithim Bin Yusuf AS dengan membawa bekas ikan yang sudah dimasak dan terus menuju ke muara di pertemuan antara laut Parsi dan Rom seperti yang ditunjukan oleh Allah. Nabi Musa berkata kepada Yusya’; ”Aku akan terus berjalan sehingga sampai ke pertemuan dua lautan atau hingga berjalan berpuluh-puluh tahun” (QS Al Kahfi ayat 60)
Nabi Musa berkata lagi kepada Yusya’ Bin Nun Bin Afraithim Bin Yusuf AS ”Apabila kamu kehilangan ikan ini maka beritahu kepada ku” setelah mereka sampai dipertemuan dua laut, mereka keletihan dan tertidur dan terlupa ikannya, kemudian dengan izin Allah ikan itu hidup dan masuk ke dalam laut dan menempuh jalan (QS Al Kahfi ayat 61)
Nabi Musa dan Yusya’ tertidur di atas batu besar yang ada disitu, kemudian ikannya terkena Ma-ul Hayat/air hidup (benda yang mati jika terkena air tersebut boleh hidup semula) lalu ia berjalan melalui batu-batan itu dan terus ke laut. Tempat yang dilalui ikan itu Allah kekalkan bekasnya, setelah bangun daripada tidurnya, Nabi Musa dan Yusya’ meneruskan perjalanannya dan lupa mengenai ikan tersebut.
Pada kesokan harinya, Nabi Musa bertanya kepada Yusya’ ”bawalah ke mari, kita bersarapan pagi, sesungguhnya kita telah merasa keletihan kerana perjalanan kita ini” (QS Al Kahfi ayat 62). Yusya’ berkata ”Tahukah kamu semasa kita berehat di atas batu(malam tadi) seseungguhnya aku lupa (menceritakan) ikan itu dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritanya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalanya di laut dengan jalan yang aneh” (QS Al Kahfi ayat 63)
Nabi Musa memberikan salam kepada Nabi Khaidir,”Asalamualaikum warah matullah hiwaba rakatuh” , Nabi Khaidir menjawab salam tersebut ”Wa alaikum salam wahai nabi kaum Bani Israel” terperanjat dengan jawaban salam tersebut, Nabi Musa bertanya kepada Nabi Khaidir”Siapa yang memaklumkan kepada kamu, aku adalah Nabi Kaum Bani Israel?” Nabi Khidir menjawab ”Orang yang menyuruh kamu datang ke mari”,
Ketika mereka sedang rancak berbual-bual dan bertukar-tukar pandangan, tiba-tiba datang seekor burung helang yang membawa air daripada paruhnya. Nabi Khaidir, berkata ”Hai Musa, Di dalam hatimu kamu pernah berkata bahawa kamu itu orang yang paling alim di seluruh muka bumi, sebenarnya ilmu kamu, ilmu kita, dan ilmu seluruh orang yang terdahulu dan yang terakhir apabila dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah laksana air yang melekat di dalam paruh burung helang tadi sahaja daripada air yang terdapat diseluruh lautan”. Tanya Nabi Musa kepada Nabi Khidir ”Bolehkah aku mengikuti kamu supaya kamu ajarkan kami dari ilmu yang kamu tahu (oleh Allah)” (QS Al kahfi ayat 66) Balas Nabi Khaidir,”sesungguhnya kamu tidak mampu untuk bersabar bersama ku, bagaimana kamu akan bersabar terhadap sesuatu yang kamu belum mengetahui hakikatnya?” Jawab Nabi Musa kepada Nabi Khidir ”Insya Allah kamu akan dapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu di dalam suatu perkara sekalipun” (QS Al kahfi ayat 69).
Kesah seterusnya adalah seperti dalam Surah Al Khafi ayat yang seterusnya.
70] Dia menjawab: Sekiranya engkau mengikutku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku akan sesuatupun sehingga aku ceritakan halnya kepadamu.
[71] Lalu berjalanlah keduanya sehingga apabila mereka naik ke sebuah perahu, dia membocorkannya. Nabi Musa berkata: Patutkah engkau membocorkannya sedang akibat perbuatan itu menenggelamkan penumpang-penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perkara yang besar.
[72] Dia menjawab: Bukankah aku telah katakan, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?
[73] Nabi Musa berkata: Janganlah engkau marah akan daku disebabkan aku lupa (akan syaratmu) dan janganlah engkau memberati daku dengan sebarang kesukaran dalam urusanku (menuntut ilmu).
[74] Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu dia membunuhnya. Nabi Musa berkata Patutkah engkau membunuh satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa membunuh orang? Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar!
75] Dia menjawab: Bukankah, aku telah katakan kepadamu, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?
[76] Nabi Musa berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sebarang perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku.
[77] Kemudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka sampai kepada penduduk sebuah bandar, mereka meminta makan kepada orang-orang di situ, lalu orang-orang itu enggan menjamu mereka. Kemudian mereka dapati di situ sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu dia membinanya. Nabi Musa berkata: Jika engkau mahu, tentulah engkau berhak mengambil upah mengenainya!
[78] Dia menjawab: Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu, aku akan terangkan kepadamu maksud (kejadian-kejadian yang dimusykilkan) yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.
[79] Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang miskin yang bekerja di laut; oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat.
[80] Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang-orang yang beriman, maka kami bimbang bahawa dia akan mendesak mereka melakukan perbuatan yang zalim dan kufur.
[81] Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka gantikan bagi mereka anak yang lebih baik daripadanya tentang kebersihan jiwa dan lebih mesra kasih sayangnya.
[82] Adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang anak yatim di bandar itu dan di bawahnya ada harta terpendam kepuyaan mereka dan bapa mereka pula adalah orang yang soleh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka) dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.
WASIAT NABI KHAIDIR KEPADA NABI MUSA
Sebelum berpisah, Nabi Musa meminta wasiat daripada Nabi Khaidir. Wasiat Nabi Khaidir kepada Nabi Musa ialah ” Wahai Musa, senyumlah kamu dan jangan ketawa sehingga terbahak-bahak. Jangan berlebih-lebihan di dalam perbalahan. Jangan berjalan tanpa ada hajat atau niat. Jangan cela orang yang bersalah kerana kesalahannya sendiri. Jangan menangguhkan kerja hari ini sehingga esok hari. Menangislah di atas segala kesalahanmu wahai anak lelaki Imran.”
(Sumber Rujukan : Kisah Nabi Musa dan Fir’aun oleh Hamdan Bin Muhtar Guru Agama Bertauliah Negeri Selangor, Malaysia)
Wednesday, September 10, 2008
Punca Kekeliruan dan Kekacauan Umah - Prof. Syed Muhammad al-Naquib al-Attas
Kepentingan dan keutamaan ilmu dalam menentukan martabat, pengaruh dan jatuh bangun satu-satu bangsa dapat dibuktikan secara empirikal. Hasil keilmuan Yunani berpengaruh besar ke atas Rom dan bangsa-bangsa lain sehingga ke hari ini. Begitu jugalah pengaruh keilmuan Jerman amat besar ke atas Rusia, Perancis dan Amerika Syarikat.Kemunculan Jepun sebagai bangsa besar lantaran asas gerakan kebangunannya yang tepat, bila ianya bermula dengan gerakan penyuburan budaya ilmu di bawah Reformasi Meiji sejak 1960an.
Prof. Syed Muhammad al-Naquib al-Attas menyimpulkan dengan tepat bahawa faktor ilmulah yang menyebabkan kemerosotan bahkan kacau bilau dalam masyarakat islam hari ini. Beliau menegaskan bahawa dilema yang dihadapi oleh umat berpunca dari;
- Confusion and error in knowledge, creating the condition for:
- The loss of adab within the community.The condition arising out of (1) and (2) is:
- The rise of leaders who are not qualified for valid leadership of the Muslim community, who do not posses the high moral, intellectual and spiritual standards required for Islamic leadership, who perpetuate the condition in (1) above and ensure the continued control of the affairs of the community by leaders like them who dominate in all fields.
Sumber: Faham Ilmu - Pertumbuhan dan Implikasi oleh Mohd. Idris Jauzi
Wednesday, September 3, 2008
Sekadar Peringatan Kepada Yang Lupa
Lafaz Niat Puasa. نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْض ِ شـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـَّهِ تـَعَالىَ “Sahaja aku berpuasa esok hari menunaikan Fardhu Ramadhan tahun ini kerana Alalh Ta’ala"
Selamat Menyambut Ramadan Al Mubarak
Maaf Zahir dan Batin
Daripada Ahmad Rais Johari dan Sekeluarga
Friday, August 29, 2008
Marhaban Ya, Ramadhan...
Selamat menyambut bulan suci Ramadhan 1429 Hijrah kepada semua mahasiswa, warga, alumni UiTM dan pembaca yang budiman yang akan menyambut kedatangan Ramadhan beberapa hari lagi.Semoga Allah SWT berkenan memberikan segala kebajikan seperti yang telah dijanjikanNYA melalui Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah Salallahuwa Alaihi Wasallam sebagaimana yang kita imani sebagai seorang muslim.
Sekadar mengisi waktu yang terluang menjelang waktu berbuka puasa nanti, maka dengan segala kerendahan hati izinkanlah saya mencadangkan kepada semua mahasiswa dan pembaca agar melihat dan menyemak kembali laman rujukan atau di halaman lain yang Insya Allah, sama berfaedah untuk kita semua.
Mudah-mudahan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung tidak sahaja selama menjalankan ibadah yang teramat istimewa ini, akan tetapi begitu juga ibadah yang seterusnya kerana ibadah merangkumi seluruh aspek kehidupan kita.
Amin!